Tampilkan postingan dengan label Soft Skill - Etika dan Profesi TSI 2011. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Soft Skill - Etika dan Profesi TSI 2011. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Juni 2011

POLEMIK KODE ETIK DAN HUKUM

Dalam bekerja kita dituntut agar bisa bersikap professional dalam menjalankan setiap tugas, karena sudah kewajiban bagi setiap pegawai untuk bekerja dengan sebaik-baiknya. Lainhalnya dengan hokum. Hokum bersifat memaksa dan mengatur, sudah kewajiban setiap warga Negara untuk mematuhi setiap hokum yang berlaku dinegaranya. Akan tetapi bagaimana jika antara kedua hal yang berbeda itu saling bertolak belakang ?, mana yang harus kita pilih utuk dikalahkan, antara hkum atau kode etik kerja..?

Sebelumnya bicara lebih dalam, saya akan mencoba menterjemhakan kata etika dan hukum

Etika berasal dari kata ethios dalam bahasa yunanai ethios berarti karakter, watak kesusilaan atau adat, sebagai suatu subjek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu atau suatu kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang sudah dilakukan itu benar atau salah.

Sedangkan hukum adalah suatu tatanan sistem yang mengatur atau mengontrol suatu pemerintahan agar tidak terjadi penyalah gunaan wewenang kekeuasaan, dalam bidang politik, ekonomi kemanan, agar setiap warga negaranya mematuhi tanpa terkecuali

Bagai mana ketika itu saling bersebrangan ? sebaiknya bagi seorang pekerja dan sekaligus masyarakat yang baik kita bisa menengahi permasalahan tersebut. Sebagai manusia yang memiki agama kita miliki norma agama yang mungkin oleh sebagian orang telah dilipakan, padahal norma ini adalah salah satu norma yang pentik dalam mengatur kehidupan. Ketika itu saling bertolak belakang, maka saya akan menggunakan norma agama untuk menyelesaikannya.

Seperti yang kita ketahui sebaian besar norma hukum yang berlaku tidak akan jauh berbeda dengan norma agama. Jadi jika ingin bekerja dan mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang halal dan berkah makan kita harus berani tegas mengambil sikap, jika pekerjaan kita sudah keluar dari 2 norma tersebut (hukum dan agama). Apapun alasannya mengatasnamanan etika berkerja bahkan professionalism untuk mendapatkan sesuatu yang bukan hak kita, itu tidak dapat dibenerkan.

Rabu, 04 Mei 2011

Prospek Dunia IT.

Dunia teknologi tidak akan pernah terlepas dari perkembangan informasi teknolgi, seiring perkembangan zama, masyarakat dunia mencoba untuk berlomba-lomba dalam memperluas ilmu yang mereka miliki. Itu disebabkan karena semakin hari kebutuhan akan ilmu pengetahuan, semakin hari mereka harus mencarinya. Seperti yang dikemukakan di awal tulisan. Bahwa dunia teknologi tidak akan pernah terlepas dari perkembangan dunia system informasi, karena hamper dalam semua disiplin ilmu yang berkang, baik ilmu kedokeran, militer maupun pendidikan, semua itu tidak akan terlepas dari dunia inforamas teknologi, olehsebab itu dunia informasi teknologi adalah salah satu factor penting yang dibutuhkan dalam perkembangan zaman pada saat ini.
Dunia IT merupakan dunia bisnis masa sekrang dan masa depan. Tinggal bagai mana kita dapat mengeas sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah paket ilmu pengetahuan yang berisikan teknologi, sumberdaya manusia sehingga dapat menghsailkan pelayanan (service) yang dibutuhkan.
Beerapa orang berpendapat bahwa dunia it merupakan dunia low risak and high profit. Tentunya semua itu harus didukaung dengan keahlian dan profesionalitas para pelaku bisnis IT, tingginya pendatapan yang diterima tidak terlepas dari ilmu pengetahuan, kemampuan teknis maupun non teknis(analisis) seseorang dalam menguasai dan mempelajari perkembangan dan kemajuan IT.
Dengan demikina saya mencoba mencari tiga profesi atau bisnis IT yang paling prosfektif jika dilihat dari hightprofit, low risk dan SDM max yaitu :
  1. It spesialis. Para spesialis it dibidang tertentu sehingga mereka menguasia beberapa disiplin ilmu yang akan mempermudah mereka memenuhi kebutuhan permintaan, tanpa harus banyak belajar disiplin ilmu yang baru, Indonesia saat ini sedang berkembang. Mereka membutuhkan orang-orang yang mengerti dibidangnnya.
  2. It security. Semakin banyak publik mengetahui sebuah teknologi. Semakin rentan pula teknologi tersebut untuk dikecoh. Oleh krena itu sebuah network security sangat dibutuhka didalamnya untuk mengontrol dan mengembangkan system keamanan yang ada pada teknologi tersebut. Seperti kemanan transaksi perbankan.
  3. Marketing. Marketing mupakan sebuah front end dari sebuah layanan. Karena marketing(pemsaran) merupakan sebuah tahap pengenalan produk terhadap sudut pandang calon penggunannya, pemasaran harus dilakukan dengan efektif dan effisen. Oleh sebab itu pemesaran akan jauh lebih efektif dan efisien disbanding dengan cara classic . tinggal bagaimana kita dapat mengemas sedemikian rupa sehingga reatif yang tidak cepat mebosankan.

Analisa Kasus Cybercrime : PENYALAH GUNAAN TEKNOLOGI KOMPUTER.

Dalam beberapa kasus, penguasaan terhadap teknologi sering kali disalahgunakan untuk melakukan suatu kejahatan. Diantara ragam kejahatan menggunakan teknologi, terdapat didalamnya suatu bentuk kejahatan terorisme baru, yaitu cyberterrorism.
Akar perkembangan dari cyberterrorism dapat ditelusuri sejak awal 1990, ketika pertumbuhan Internet semakin pesat dan kemunculan komunitas informasi. Di Amerika serikat sejak saat itu diadakan kajian mengenai potensi resiko yang akan dihadapi Amerika Serikat atas ketergantungannya yang begitu erat dengan jaringan (networks) dan teknologi tinggi ). Dikhawatirkan, karena ketergantungan Amerika Serikat yang begitu tinggi terhadap jaringan dan teknologi suatu saat nanti Amerika akan menghadapi apa yang disebut "Electronic Pearl Harbor” ).

Faktor psikologis, politik, dan ekonomi merupakan kombinasi yang menjadikan peningkatan ketakutan Amerika terhadap isu terkait cyberterrorism. Sehingga pada tahun 1999, Presiden Clinton sampai mengajukan proposal anggaran dana untuk menangani aksi cyber terrorisme sebesar $2.8 miliar. Dana tersebut juga diperuntukan bagi penanganan keamanan nasional dari ancaman bahaya internet ).

Motif dilakukannya cyberterrorism menurut Zhang ada lima sebab, yaitu ) :

  1. Psychological Warfare. Menurut Zhang, “The study of the modern terrorism also reveals one of the most important characteristics of the terrorism is to raise fear.” Motif ini tidak berbeda dengan motif terorisme konvensional, dimana sasaran utama terorisme adalah menimbulkan rasa ketakutan dalam masyarakat.
  2. Propaganda. Melalui cyberterrorism, kelompok teroris dapat melakukan propaganda tanpa banyak hambatan seperti sensor informasi, karena sifat Internet yang terbuka, upaya ini jauh lebih efektif
  3. Fundraising. Melalui cyberterrorism, khususnya tindakan penyadapan dan pengambilalihan harta pihak lain untuk kepentingan organisasi teroris telah menjadi motif utama dari cyberterrorism. Kelompok teroris juga dapat menambah keuangannya melalui penjualan CD dan buku tentang “perjuangan” mereka.
  4. Communication. Motif selanjutanya dari cyberterrorism adalah komunikasi. Kelompok teroris telah secara aktif memanfaatkan Internet sebagai media komunikasi yang efektif dan jauh lebih aman dibandingkan komunikasi konvensional.
  5. Information Gathering. Kelompok teroris memiliki kepentingan terhadap pengumpulan informasi untuk keperluan teror, seperti informasi mengenai sasaran teror, informasi kekuatan pihak musuh, dan informasi lain yang dapat menunjang kinerja kelompok teroris tersebut seperti informasi rahasia (intelegent information) terkait persenjataan, dan lainnya. Atas dasar motif information gathering lah cyberterrorism dilakukan.

Pergeseran wilayah terorisme konvensional ke cyberterrorisme disebabkan beberapa faktor. Weimann dalam tulisannya http://www.terror.net : How Modern Terrorism Uses the Internet menuturkan delapan alasan mengapa terjadi pergeseran wilayah aktifitas terorisme dari konvensional ke cyberterrorisme yaitu sebagai berikut ) :

  1. Kemudahan untuk mengakses. Cyberterrorism dapat dilakukan secara remote. Artinya tindakan cyberterrorism dapat dilakukan dimana saja melalui pengontrolan jarak jauh.
  2. Sedikitnya peraturan, penyensoran, dan segala bentuk kontrol dari pemerintah.
  3. Potensi penyebaran informasi yang mengglobal.
  4. Anonimitas dalam berkomunikasi. Hal ini merupakan hal yang biasa dalam dunia Internet. Kebanyakan orang berinteraksi di Internet menggunakan nama palsu atau biasa disebut nickname.114
  5. Arus informasi yang cepat.
  6. Biaya yang rendah untuk mengembangkan dan merawat website, selain itu dalam melaksanakan cyberterrorism yang diperlukan umumnya hanya perangkat komputer yang tersambung ke jaringan Internet.115
  7. Lingkungan multimedia yang mempermudah penyampaian maksud dan tujuan teror.
  8. Kemampuan yang lebih baik dari media massa yang tradisional dalam menyajikan informasi.

Etika seorang hacker (hecker Ethic)

Peretas (Inggris: hacker) adalah orang yang mempelajari, menganalisa, dan selanjutnya bila menginginkan, bisa membuat, memodifikasi, atau bahkan mengeksploitasi sistem yang terdapat di sebuah perangkat seperti perangkat lunak komputer dan perangkat keras komputer seperti program komputer, administrasi dan hal-hal lainnya, terutama keamanan.

Proses memperoleh pengakuan di antara sesama hacker tidak lepas dari etika & aturan main dunia underground. Etika ini yang akhirnya akan membedakan antara hacker & cracker, maupun hacker kelas rendahan seperti Lamer & Script Kiddies. Salah satu etika yang berhasil di formulasikan dengan baik ada di buku Hackers: Heroes of the Computer Revolution, yang ditulis oleh Steven Levy 1984, ada enam (6) etika yang perlu di resapi seorang hacker:

  1. Akses ke komputer – dan apapaun yang akan mengajarkan kepada anda bagaimana dunia ini berjalan / bekerja – harus dilakukan tanpa batas & total. Selalu mengutamakan pengalaman lapangan!
  2. Semua informasi harus bebas, tidak di sembunyikan. Etika ini yang menjadi dasar berbagai lisensi yang sifatnya terbuka, open source, seperti GNU, GPL, Apache License dll.
  3. Tidak pernah percaya autoritas – percaya pada desentralisasi.
  4. Seorang hacker hanya di nilai dari kemampuan hackingnya, bukan kriteria buatan seperti gelar, umur, posisi, kekayaan atau suku bangsa.
  5. Seorang hacker membuat seni & keindahan di komputer.
  6. Seorang hacker percaya bahwa komputer dapat mengubah hidup kita menjadi lebih baik.


Etika di atas sebetulnya cukup sangat berbeda dengan dunia nyata, salah satu konsekuensi yang paling mendasar yang di anut oleh banyak hacker adalah,


"hacker tidak percaya pada otoritas (penguasa), dan mereka hanya menghormati seseorang karena keahliannya."